Sunday , July 23 2017
Home / Luar Negeri / Sekutu Alami Israel Dan Arab Saudi Bersama Melawan Kesatuan Arab Dan Islam

Sekutu Alami Israel Dan Arab Saudi Bersama Melawan Kesatuan Arab Dan Islam

Sekutu Alami Israel Dan Arab Saudi Bersama Melawan Kesatuan  Arab Dan Islam

Dunia diributkan oleh klaim Koran berbasis di Inggris The Times yang melaporkan bahwa Israel dan Arab Saudi sedang mendiskusikan pemulihan hubungan ekonomi diantara mereka. Secara sekilas Agen Intelijen Israel, Mossad secara rutin bertemu dengan intelijen Arab Saudi  dan telah berlangsung sekian decade sebagaimana beberapa laporan menunjukkan aliansi antara Israel dan Arab Saudi di timur tengah yang berlangsung secara rahasia dan kini terbuka secara public.

Aliansi kian mendalam dan intens sejak kejatuhan Presiden Mesir Husni Mubarak.  Mubarak tidak hanya aliansi hebat dan cakap menghadapi Iran dan Hamas, namun Mubarak juga melindungi Mesir dari kontrol Ikhwanul Muslimin sebuah organisasi yang dipandang oleh Riyadh dan Negara teluk lainnya sebagai ancaman. Israel sangat gembira ketika Jenderal Abdel Fatah Al-Sisi menjungkalkan Mohammad Morsi, merubah konstitusi dan menuduh Hamas mencoba merusak keamanan Mesir.  Bukan rahasia Jenderal Mesir dan Israel melakukan hubungan konstan sepanjang masa kudeta, sementara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab ( UAE ) membantu secara terselubung.

Intelijen Mossad dan Arab Saudi berkumpul ketika presiden Mesir saat itu digulingkan dan pada waktu yang sama mereka bekerja sama menentang Iran, keduanya diduga merencanakan  serangan Israel melalui wilayah udara Arab Saudi dan melakukan sabotasi yang kemudian mendasari kesepakatan nuklir. Beberapa klaim sumber yang dapat dipercaya mengatakan bahwa Arab Saudi mendanai kebanyakan kampanye Israel melawan Iran.

Saat ini The Times menampilkan laporan bahwa sumber dari Arab dan Amerika menyampaikan kepada Koran tersebut mengenai hubungan antar dua Negara yang telah dimulai dalam kooperasi skala kecil seperti pemberian izin pesawat El Al melintasi Kerajaan Saudi, masuknya perusahaan Israel di Negara teluk.

Dengan bukti yang tampak kemungkinan akan terjadi normalisasi daerah yang diduduki Isrel di Palestina. Namun ada satu pertanyaan yang perlu diajukan, mengapa aliansi Arab Saudi dan Israel membuat sebuah perjanjian bersejarah ?

Selama beberapa dekade kedua Negara memiliki cara pandang yang sama terhadap sekelilingnya, yaitu kegelisahan. Reaksi yang sama dan dapat disimpulkan bahwa diambil dalam ruang pengambilan keputusan bersama. Kedua Negara secara agresif dan brutal terhadap warga sipil dibawah keputusan territorial mereka seperti menganeksasi Palestina dan propinsi Qatif timur. Keduanya hanya merasa aman dengan Negara sekelilingnya dengan cara mengincasi mereka seperti apa yang telah terjadi di Libanon dan Yaman atau memberi pendanaan proxy war dan kudeta di Iraq, Suriah, Mesir, Libya dan Sudan.

Mereka memiliki musuh atau rival yang sama yaitu Iran, Turki, Qatar, Hamas di Gaza, Hizbullah di Libanon, Suriah, dan Ikhwanul Muslimin di sisi lain. Keduanya memiliki sekutu yang sama se[erti Amerika Serikat dan Inggris. Jadi pada situasi ini seperti mendorong kesepakatan perdamaian  dengan darah, darah rakyat Palestina.

Israel dan  Arab Saudi tidak memiliki hubungan diplomatik tetapi kedua Negara secara terselubung berhubungan dalam membahas Iran sebanyak lima kali sejak tahun 2014. Hal ini diungkapkan oleh Anwar Eshki seorang mantan jenderal dan duta besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat serta Dore Gold mantan duta besar Israel untuk PBB. Anwar Eshki berkunjung ke Israel pada pertengahan 2016 dan diduga mempromosikan Inisiatif Perdamaian Arab.  Pertemuan tersebut tidak hanya mengungkapkan kolaborasi kedua Negara, tetapi labih dari itu juga pertemuan tersebut memperkuat permusuhan mereka terhadap salah satu kekuatan regional yaitu Iran. Ketika Eskhi ( Mantan Dubes Arab Saudi ) ditanyai bahwa Israel adalah sumber teroris regional, Eskhi menjawab bahwa konflik Israel – Palestina bukan akar dan sumber terorisme, akan tetapi menjadi lahan subur tumbuhnya terorisme dikawasan ini yang didukung oleh Iran.

Saudi Israel fa114 - Sekutu Alami Israel Dan Arab Saudi Bersama Melawan Kesatuan Arab Dan Islam

Iran : Alasan penting Arab Saudi dan Israel Bersekutu

Pembagian Sunni dan Syiah yang terlalu banyak di timur tengah merupakan salah satu garis sasar diantara Negara Negara muslim yang tidak dapat diatasi merupakan sepertiga dari persaingan Arab Saudi dan Iran. Arab Saudi yang ditopang oleh klan Wahhabi yang secara kebetulan dianggap menjadi kekuatan kunci didunia Sunni menganggap semua orang Syiah kafir, dan Iran adalah Negara mayyoritas penganut Syiah karenanya Kerajaan Saudi melihatnya sebagai rival utama.

Hasilnya, Saudi menganggap bahwa yang pro pemerintahan Iran di timur tengah adalah musuh, dan setiap yang anti pemerintahan Iran adalah teman dekat dan sekutu. Dengan begitu Saudi menutup mata terhadap kekejaman yang dilakukan oleh Israel melawan rakyat Palestina yang notabene mayoritas Sunni.

Nampak jelas Arab Saudi tidak senang dengan menguatnya Iran, bagaimanapun pencabutan sangsi dan makin aktifnya Teheran dalam percaturan politik internasional serta keterlibatan langsung  Iran dalam perang melawan teroris di Irak dan Suriah mau tidak mau akan memperkuat Negara Persia tersebut, suatu hasil yang memprihatinkan untuk Arab Saudi.

Trump Mengkatalisasi Sekutu Tidak Suci

Kunjungan Trump baru baru ini di timur tengah menunjukkan hubungan Amerika Serikat – Israel dengan Iran. Pada perang Israel dan palestina, Trump mengadopsi posisi yang sangat bias sementara menyampaikan pernyataan klise bahwa rakyat Palestina dan Israel hidup berdampingan secara harmonis. Trump terdiam pencurian tanah arab dan Palestina, pengusiran massal dan pemusnahan mereka melalui tindakan genosida dan pembersihan etnis oleh Israel.  Trump sepertinya tidak menyadari penghinaan dan penindasan yang harus dihadapi / dialami rakyat Palestina setiap hari di pos pemeriksaan Israel di Tepi Barat atau pengurungan sekitar 2 juta orang rakyat Palestina dipenjara terbuka terbesar didunia yang bernama Gaza.

Trump sangat senang karena Israel dan Kerajaan Arab Saudi menganggap Iran adalah sponsor terorisme. Menyamakan antara perlawanan Hizbullah dengan ISIS atau Al-Qaeda yang didanai oleh Arab Saudi. Penting untuk menjadi catatan bahwa dalam beberapa tahun terakhir tidak tercatat satupun warga Iran terlibat dalam serangan teroris diwilayah asia barat maupun afrika utara, atau bahkan dibelahan dunia lainnya. Faktanya kelompok teroris terkemuka seperti ISIS dan Al-Qaeda yang nota bene anti Iran dan anti Syiah kebanyakan dari mereka penganut Wahabi yang didukung oleh Arab Saudi. Sedangkan Hizbullah yang didukung Iran dan Garda Revolusi Iran sibuk memerangi pejuang teroris.

Pada dasarnya Presiden Trump menjadikan lawatan luar negeri  pertamanya untuk mengecam perilaku agerisif Iran., topik yang pada akhirnya mempersatukan sekutu Amerika Serikat dikawasan timur tengah terutama Arab Saudi dan Israel. Ledakan ini diinvestasikan oleh rekan Arab Saudi dan Israel dan diumumkan oleh The Times, namun tidak mendapat porsi yang cukup oleh media Arab kecuali beberapa saja terkait rencana Negara Negara Arab melakukan normalisasi hubungan dengan Israel.

Jika laporan seperti ini muncul dimasa lalu, Juru Bicara Arab Saudi dan Israel akan membantah, tetapi kali ini tidak ada bantahan, hal ini menunjukkan dasar yang kuat diantara Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Amerika Serikat tanpa perlu mengupayakan persetujuan Liga Arab akan langkah ini.

Keanggotaan Suriah di Liga Arab sudah ditangguhkan, Irak dianggap sekutu Iran, Libya berantakan, Yaman dalam serangan berat Arab Saudi, Yordania dan Mesir mengikuti Arab Saudi dengan  cara membabi buta seperti juga beberapa Negara Maghribi lainnya. Dengan demikian, normalisasi sebagain atau keseluruhan negara teluk Persia  dan Israel tidak mewajibkan negara arab lainnya.

Bagaimanapun langkah tersebut tidak dapat diragukan lagi akan menggoncang posisi permanen Kerajaan Arab Saudi sebagai penjaga doa kota suci dalam keyakinan Islam dan akan menyebabkan runtuhnya pengaruhnya dalam skala dunia Islam yang lebih besar dan jika tetap memilih untuk secara terbuka mengungkap persekutuan dengan Israel, serta melakukan normalisasi untuk kasus Palestina. Palestina pada akhirnya dibiarkan berkoordinasi dan tergantung pada dukungan musuh Arab Saudi dan Israel yaitu Iran dan Hizbullah.

Tulisan ini disarikan dari tulisan

Marwah Osman
PhD Candidate in Management. Journalist and former political TV show host. University Lecturer. Political Commentator/Writer for several news media outlets.

Mohon maaf jika alih bahasa kurang sempurna

Comments

comments

Check Also

putinmacronversailles 630x378 310x165 - Soal Suriah, Presiden Perancis Lebih Dekat Dengan Rusia

Soal Suriah, Presiden Perancis Lebih Dekat Dengan Rusia

Dalam sebuah wawancara dengan media The Guardian, Presiden Perancis Emmanuel Macron memberikan tanda perubahan besar …